Anxiety atau ketakutan yang berkecambuk dalam hati individu atau tim merupakan gejala yang umum dalam olahraga. Anxiety adalah reaksi terhadap perasaan “khawatir” akan terancam keamanan pribadinya (personal securitynya), dan anxiety akan selamanya berkecambuk dalam kehidupan seorang atlit. Oleh karena itu, maka seorang atlet membutuhkan suatu mekanisme di dalam kepribadiannya untuk megatasi atau membebaskan dirinya dari perasaan tersebut.

 

Ada banyak perilaku – perilaku yang dilakukan seorang atlet untuk menutupi perasaan anxiety yang dialaminya, antara lain sebagai berikut :

a.   Dengan bersikap sombong;

b.   “Show off” (pamer atau perangaan), misalnya saja dengan menggunakan baju yang menyolok potongan atau            warnanya, jaket yang menyeramkan dilengkapi dengan rambut kumis gondrong dan kacamata hitam, tempat yang paling aman untuk bersembunyi, serta bisa berfungsi sebagai topeng untuk menyembunyikan perasaan-perasaan yang sebenarnya;

c.    Main “kotor” atau menipu, cara ini adalah cara yang kurang wajar dari seorang atlet yang ingin menang dari  lawan yang berat atau sulit dikalahkan. Seorang coach berkewajiban untuk mencari penyebab sebenarnya dari gejala-gejala yang dilakukan oleh atlitnya.

 

2.1 Definisi Mekanisme Pertahanan Diri

Istilah mekanisme pertahanan umum digunakan dalam usaha penyisihan (warding off) dan ditujukan terhadap dorongan naluri. Dorongan naluri disisihkan karena sesungguhnya setiap penyisihan merupakan defensi terhadap afek. Pertahanan langsung terhadap afek, merupakan defense yang lebih archaik (primitif), kurang sistematik, namun lebih memainkan peranan. Namun pertahanan akan tertuju terhadap dorongan naluri, dan umumnya lebih penting dalam hal terjadinya patogenesa neurosa, dan pertahanan tersebut bersifat lebih tersusun dan terorganisasi.

2.2 Tujuan dan Sifat – Sifat Mekanisme Pertahanan Diri

Mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh seorang atlet atau manusia bertujuan untuk :

1.      memperlunak atau mengurangi risiko kegagalan;

2.      mengurangi kecemasan (anxiety);

3.      mengurangi perasaan yang menyakitkan; dan

4.      mempertahankan perasaan layak (aman) dan harga diri.

 

Selain memiliki tujuan, mekanisme pertahanan diri mempunyai beberapa sifat atau karakteristik, antara lain :

1.      kurang realistik,

2.      tidak berorientasi kepada tugas,

3.      mengandung penipuan diri, dan

4.      sebagian  besar bekerja secara tidak disadari sehingga sukar untuk dinilai             dan dievaluasi secara sadar.

 

2.3 Aspek Penting Psikologi Olahraga dalam Mekanisme Pertahanan Diri

2.3.1 Emosi

Faktor-faktor emosi dalam diri atlet menyangkut sikap dan perasaan atlet secara pribadi terhadap diri sendiri, pelatih maupun hal-hal lain di sekelilingnya. Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai perasaan seperti senang, sedih, marah, cemas, takut, dan sebagainya. Bentuk-bentuk emosi tersebut terdapat pada setiap orang. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri.

 

Pengendalian emosi dalam pertandingan olahraga seringkali menjadi faktor penentu kemenangan. Para pelatih harus mengetahui dengan jelas bagaimana gejolak emosi atlet asuhannya, bukan saja dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan dan kehidupan sehari-hari. Pelatih perlu tahu kapan dan hal apa saja yang dapat membuat atletnya marah, senang, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan demikian pelatih perlu juga mencari data-data untuk mengendalikan emosi para atlet asuhannya. yang tentu saja akan berbeda antara atlet yang satu dengan atlet lainnya.

 

Gejolak emosi dapat mengganggu keseimbangan psikofisiologis seperti gemetar, sakit perut, kejang otot, dan sebagainya. Dengan terganggunya keseimbangan fisiologis maka konsentrasi pun akan terganggu, sehingga atlet tidak dapat tampil maksimal. Seringkali seorang atlet mengalami ketegangan yang memuncak hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Demikian hebatnya ketegangan tersebut sampai ia tidak dapat melakukan awalan dengan baik. Apalagi jika lawannya dapat menekan dan penonton pun tidak berpihak padanya, maka dapat dibayangkan atlet tersebut tidak akan dapat bermain baik. Konsentrasinya akan buyar, strategi yang sudah disiapkan tidak dapat dijalankan, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa.

 

Disinilah perlunya dipelajari cara-cara mengatasi ketegangan (stress management). Sebelum pelatih mencoba mengatasi ketegangan atletnya. terlebih dulu harus diketahui sumber-sumber ketegangan tersebut. Untuk mengetahuinya, diperlukan adanya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atlet.

 

2.3.2 Kecemasan dan Ketegangan

Kecemasan biasanya berhubungan dengan perasaan takut akan kehilangan sesuatu, kegagalan, rasa salah, takut mengecewakan orang lain, dan perasaan tidak enak lainnya. Kecemasan-kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal. Untuk itu, telah banyak diketahui berbagai teknik untuk mengatasi kecemasan dan ketegangan yang penggunaannya tergantung dari macam kecemasannya.

 

Sebagai usaha untuk dapat mengatasi ketegangan dan kecemasan, khususnya dalam menghadapi pertandingan, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan seperti berikut ini :

a. Mengidentifikasi dan menemukan sumber utama dan permasalahan yang     menimbulkan   kecemasan.

b.  Melakukan latihan simulasi, yaitu latihan di bawah kondisi seperti dalam    pertandingan sesungguhnya.

c. Berusaha untuk mengingat, memikirkan, dan merasakan kembali saat-saat   ketika mencapai penampilan paling baik atau paling mengesankan.

d. Melakukan latihan relaksasi progresif, yaitu melakukan peregangan alau      pengendoran otot-otot tertentu secara sistematis dalam waktu tertentu.

e. Melakukan latihan otogenik, yaitu bentuk latihan relaksasi yang secara         sistematis memikirkan dan merasakan bagian-bagian tubuh sebagai hangat dan berat.

f. Makukan latihan pernapasan dengan bernapas melalui mulut dan hidung      serta secara sadar bernapas dengan menggunakan diafragma.

g.  Mendengarkan musik (untuk mengalihkan perhatian).

h.  Berbincang-bincang, berada dalam situasi sosial (untuk mengalihkan           perhatian).

i.   Membuat pernyataan-pernyataan positif terhadap diri sendiri untuk             melakukan sesuatu yang diperlukan saat itu.

2.4 Bentuk – Bentuk dari Mekanisme Pertahanan Diri

2.4.1 Represi

Represi merupakan bentuk paling dasar diantara mekanisme lainnya. Suatu cara pertahanan untuk menyingkirkan dari kesadaran pikiran dan perasaan yang mengancam. Represi adalah mekanisme yang dipakai untuk menyembuhkan hal-hal yang kurang baik pada diri kita kea lam bawah sadar kita. Dengan mekanisme ini kita akan terhindar dari situasi tanpa kehilangan wibawa kita. Demikian pula dalam keolahragaan  atlit-atlit yang terlatih mempunyai kemampuan untuk merepress dan mengubur pikiran-pikiran yang tidak baik yang bila tidak ditekan mungkin akan mengakibatkan tindakan-tindakan yang salah. Contohya yaitu ketika di pertandingan bola basket seorang atlet putri memakai kostum yang terlalu besar atau terbuka sehingga dia tidak nyaman terhadap situasi tersebut pada awal petandingan. Akan tetapi, setelah pertandingan berlangsung beberapa menit, maka dengan mekanisme represi ini perasaan tersebut akan hilang dari pikiran atlet.

2.4.2. Supresi

Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebenarnya merupakan analog dari represi yang disadari. Perbedaan supresi dengan represi yaitu, pada supresi seseorang secara sadar menolak pikirannya keluar alam sadarnya dan memikirkan yang lain. Dengan demikian supresi tidak begitu berbahaya terhadap kesehatan jiwa, karena terjadinya dengan sengaja, sehingga ia mengetahui apa yang dibuatnya. Contohnya : saat menuju ke tempat pertandingan atau sebelum pertandingan dimulai ada beberapa atlet yang sering dilihat sedang mendengarkan musik atau berbincang-bincang dengan rekan setimnya tentang bahasan diluar pertandingan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatiannya untuk sementara waktu guna mengatasi ketegangan yang dihadapi.

2.4.3 Penyangkalan (denial)

Mekanisme pertahanan ini paling sederhana dan primitive. Penyangkalan berusaha untuk melindungi diri sendiri terhadap kenyataan yang tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan cara melarikan diri dari kenyataan atau kesibukan dengan hal-hal lain. Penghindaran atau penyangkalan diri dari aspek yang menyakitkan pada kenyataan dengan cara menghilangkan data sensoris. Contohnya : seorang guru pendidikan jasmani yang sedang memberikan penjelasan tentang sebuah materi (misalnya : menendang bola dengan kaki bagian luar) tetapi saat memberikan contoh kepada siswa-siswa guru tersebut melakukan gerakan yang kurang sempurna atau bahkan salah, maka biasanya seorang guru akan mengatakan “itu tadi adalah contoh yang salah”.

 

2.4.4 Proyeksi

Proyeksi merupakan usaha untuk menyalahkan orang lain mengenai kegagalannya, kesulitannya atau keinginan yang tidak baik. Misalnya presentasi olahraga yang kurang baik dengan alasan sedang sakit flu atau tidak naik kelas karena gurunya sentiment. Dolah dan Holladay (1967) berpendapat bahwa proyeksi adalah contoh dari cara untuk memungkiri tanggung jawab kita terhadap implus-implus dan pikiran-pikiran dengan melimpahkan kepada orang lain dan tidak pada kepribadian diri sendiri.

 

Sebenarnya setiap manusia tidak akan luput dari kegagalan adalah suatu kenyataan hidup.setiap kegagalan hendaknya menjadi pelajaran bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Akan tetapi banyak atlit yang tidak bisa mengambil pelajaran atas kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya dan selalu melakukan proyeksi, selalu menyalahkan orang lain. Contoh :  pemain sepak bola yang gagal menyarangkan bola ke dalam gawang yang sudah ditinggalkan penjaga gawang mengatakan bahwa “lapangan tidak rata dan saya sukar mengontrol bola pada saat itu”. Dengan memberikan alasan tersebut diharapkan agar atlet yang bersangkutan tidak disalahkan atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Melalui contoh tersebut  dapat dilihat bahwa mekanisme mental dari projection sebagai proyeksi yang tidak sehat terhadap pikiran dan keinginan atlit yang tidak mau mengakui bahwa pikiran dan keinginan tersebut sebenarnya kemampuannya.

2.4.5 Sublimasi

Sublimasi merupakan dorongan kehendak atau cita-cita yang yang tidak dapat diterima oleh norma-norma di masyarakat lalu disalurkan menjadi bentuk lain yang lebih dapat diterima bahkan ada yang mengagumi. Seseorang  yang mempunyai dorongan kuat untuk berkelahi disalurkan dalam olahraga keras misalnya bertinju, gulat, pencak silat, dan lain sebagainya. Selain itu, contoh dalam kehidupan sehari – hari yaitu mengisap permen sebagai sublimasi kenikmatan menghisap ibu jari.

2.4.6 Reaksi Formasi

Reaksi formasi atau penyusunan reaksi mencegah keinginan yang berbahaya baik yang diekspresikan dengan cara melebih-lebihkan sikap dan prilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan untuk dilakukannya. Misalnya seorang atlet yang iri hati terhadap prestasi lawannya, maka ia akan memperlihatkan sikap yang sebaliknya, yaitu sangat menghormatinya (memuji) secara berlebihan. Contoh lain seorang yang secara fanatik melarang perjudian dan kejahatan lain dengan maksud agar dapat menekan kecenderungan dirinya sendiri ke arah itu.

2.4.7 Introyeksi

Introyeksi akan terjadi bila seseorang menerima dan memasukkan ke dalam pendiriannya berbagai aspek keadaan yang akan mengancamnya. Hal ini dimulai sejak kecil, pada waktu seseorang anak belajar mematuhi dan menerima serta menjadi memiliki beberapa nilai serta peraturan masyarakat. Lalu ia dapat mengendalikan perilaku dan dapat mencegah pelanggaran serta hukuman sebagai akibatnya. Dalam pemerintahan dan kekuasaan yang otoriter maka banyak orang mengintroyeksikan nilai-nilai kepercayaan baru sebagai perlindungan terhadap perilaku yang dapat menyusahkan mereka. Contoh dalam sepak bola : seorang atlet yang sering melakukan pelanggaran di awal debutnya dan sering mendapatkan denda atau hukuman, maka dipertandingan berikutnya ia akan mengendalikan perilaku dan dapat mencegah pelanggaran tersebut.

2.4.8 Pengelakan atau Salah Pindah (Displacement)

Terjadi apabila kebencian terhadap seseorang dicurahkan atau “dielakkan” kepada orang atau obyek lain yang kurang membahayakan. Seseorang yang dimarahi oleh atasannya  dielakkan atau dicurahkan kepada istri, anaknya atau pembantunya. Dalam bola basket misanya, seorang atlet yang timnya menderita kekalahan dalam sebuah partai final, dan atlet tersebut performanya buruk, lalu seusai pertandingan berakhir, kekecewaannya akan dielakkan terhadap adik-adiknya dirumah atau barang-barang di kamarnya.

2.4.9 Rasionalisasi

Rasionalisasi merupakan upaya untuk membuktikan bahwa perilakunya itu masuk akal (rasional) dan dapat disetujui oleh dirinya sendiri dan masyarakat. Contohnya membatalkan pertandingan olah raga dengan alasan sakit dan akan ada ujian, padahal ia takut kalah. Contoh lain yaitu melakukan korupsi dengan alasan gaji tidak cukup.

2.4.10 Simbolisasi

Simbolisasi merupakan suatu mekanisme apabila suatu ide atau obyek digunakan untuk mewakili ide atau obyek lain, sehingga sering dinyatakan bahwa simbolisme merupakan bahasa dari alam tak sadar. Menulis dengan tinta merah merupakan simbol dari kemarahan. Demikian pula warna pakaian, cara bicara, cara berjalan, tulisan dan sebagainya merupakan simbol-simbol yang tak disadari oleh orang yang bersangkutan. Contohnya : ketika dalam keadaan tertekan (timnya dalam posisi tertinggal) seorang atlet mengingatkan rekan timnya dengan raut wajah yang penuh amarah dan nada suara yang tinggi.

 

2.4.11 Konversi

Konversi merupakan proses psikologi dengan menggunakan mekanisme represi, identifikasi, penyangkalan, pengelakan dan simbolis. Suatu konflik yang berakibat penderitaan afek akan dikonversikan menjadi terhambatannya fungsi motorik atau sensorik dalam upayanya menetralisasikan pelepasan afek. Dengan paralisis atau dengan gangguan sensorik, maka konflik dielakkan dan afek ditekan. Hambatan fungsi merupakan simbol dari keinginan yang ditekan. Misalnya : seorang pemain voli yang sedang menagalami konflik pribadi dan bermain sangat buruk dari tim yang mengalami kekalahan, dia menyebutkan berbagai alasan bahwa kekalahan timnya itu bukan karena dia (mengelak).  Padahal yang sebenarnya terjadi yaitu atlet tersebut tidak dapat mempertahankan dirinya dari masalah pribadinya dan terbawa dipertandingan sehingga semua instruksi yang diberikan pelatih tidak dapat diaplikasikannya di lapangan.

 

2.4.12 Identifikasi

Identifikasi merupakan upaya untuk menambah rasa percaya diri dengan menyamakan diri dengan orang lain atau institusi yang mempunyai nama. Misalnya seseorang yang meniru gaya orang yang terkenal atau mengidentifikasikan dirinya dengan jawatannya atau daerahnya yang maju. Contoh lainnya yaitu : seorang playmaker dalam bola basket menyamakan dirnya dengan Mario Wuysang (pemain timnas Indonesia) untuk menambah kepercayaan dirinya.

2.4.13 Regresi

Regresi merupakan upaya untuk mundur ke tingkat perkembangan yang lebih rendah dengan respons yang kurang matang dan biasanya dengan aspirasi yang kurang. Contohnya ; anak yang sudah besar mengompol atau mengisap jarinya atau marah-marah seperti anak kecil agar keinginannya dipenuhi.

2.4.14 Kompensasi

Kompensasi merupakan upaya untuk menutupi kelemahan dengan menonjolkan sifat yang diinginkan atau pemuasan secara frustasi dalam bidang lain. Kompensasi ini dirangsang oleh suatu masyarakat yang bersaing. Karena itu yang bersangkutan sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Misalnya karena kurang mampu dalam pelajaran di sekolah dikompensasiakan dalam juara olah raga atau sering berkelahi agar ditakuti.     Contoh lain yaitu orang yang gagal dalam cinta kemudian mencurahkan seluruh perhatiannya dalam bentuk musik dan akhirnya menjadi seorang musikus termashur. Bahkan Banyak atlit yang pada waktu kecilnya sakit-sakitan, lemh, malah lumpuh seperti misalnya Glen Cunningham, Wilma Rudolf, Ernie Shelton setelah berlatih keras dan bekerja berat kemudian menjadi juara-juara dunia.

2.4.15 Pelepasan (Undoing)

Pelepasan merupakan upaya untuk menebus kesalahan sehingga dengan demikian meniadakan keinginan atau tindakan yang tidak bermoral. Contohnya, misalnya seorang pemain yang seringkali bermain kasar atau keras (kurang sesuai dengan etika bertanding) akan memberikan sumbangan-sumbangan besar untuk aktivitas sosial.

2.4.16 Penyekatan Emosional (Emotional Insulation)

Penyekatan emosional akan terjadi apabila seseorang mempunyai tingkat keterlibatan emosionalnya dalam keadaan yang dapat menimbulkan kekecewaan atau yang menyakitkan. Sebagai contoh, melindungi diri terhadap kekecewaan dan penderitaan dengan cara menyerah dan menjadi orang yang menerima secara pasif apa saja yang terjadi dalam kehidupan.

2.4.17 Isolasi (Intelektualisasi dan disosiasi)

Isolisasi merupakan bentuk penyekatan emosional. Misalnya seorang pelatih yang timnya mengalami kegagalan maka kesedihannya akan dikurangi dengan mengatakan “sudah nasibnya” atau “kurang beruntung”  dan sambil tersenyum.

2.4.18 Pemeranan (Acting out)

Pemeran mempunyai sifat yaitu dapat mengurangi kecemasan yang dibangkitkan oleh berbagai keinginan yang terlarang dengan membiarkan ekspresi dalam melakukannya. Contohnya : seorang atlet basket biasanya akan berpura – pura melindungi bola (pivot) saat ada lawan yang menjaga dengan posisi yang salah padahal dia hendak mencederai lawan dengan pivot dalam kondisi siku keluar, hal ini sangat berbahaya bagi lawan.