tutorial – mengubah theme di wordpress

theme

 

 

 

 

FISIOLOGI (ADAPTASI)

RESUME

ADAPTASI FUNGSI ORGAN TUBUH TERHADAP

OLAHRAGA JANGKA PANJANG

Dalam latihan olahraga yang teratur dan terus menerus (kontinue) akan terjadi efek fisiologis. Efek Psikologis tersebut dapat digambarkan pada :

  1. 1. ADAPTASI SISTEM NEUROMUSKULER

Kegiatan yang berhubungan dengan otot yang dilakukan berkali-kali sampai batas maksimum akan menyebabkan bertambah besarnya otot skelet. Peningkatan daya otot maksimal adalah hasil dari kenaikan dua unsur yaitu, kekuatan dan kecepatan.

 

Peningkatan kekuatan sebagai hasil dari latihan otot dikarenakan :

  1. Penambahan luas penampang otot
  2. Kenaikkan curahan syaraf (nerve discharge) kepada otot

 

Untuk pekerjaan tertentu terdapat penurunan energi yang diperlukan, yang mana dapat mencapai ¼ daripada sebelumnya

Hasil dari latihan neuromuskuler telah ditunjukkan dengan melalui penyelidikan electromyography sebagai berikut :

  1. Flodorov               : “subyek terlatih memiliki periode latent yang lebih pendek”
  2. Basmajian              : “orang terlatih mempunyai keuntungan kontrol yang lebih                               baik dari motor units” inilah yang menjadi dasar perbedaan                                                    ketangkasan masing-masing orang.

 

  1. 2. ADAPTASI SISTEM KARDIOVASKULER

Latihan akan meningkatkan cardic output maximal.yang disebabkan oleh peningkatan volume sekuncup yang dihasilkan oleh distansibilitas dan contraktilitas otot jantung.

Penurunan kerja jantung berhubungan dengan adanya perpanjangan periode kontraksi isometric dan waktu injeksi. Perpanjangan periode diastole menyebabkan aliran darah koroner menjadi lebih baik dan supply oxpply oxygenke otot jantung menjadi lebih baik.

Jadi dengan latihan jantung menjadi lebih efisien dan dapat mengedarkan lebih banyak darah dengan jumlah denyut yang lebih rendah. Kontraksi jantung menjadi lebih kuat , jadi mengosongkan dirinya lebih sempurna dan isi sekuncup serta cardiac output bertambah besar.

Latihan juga merubah struktur jantung, bersama dengan meningkatnya faskularisasi, dijumpai kenaikan yang tajam dari berat massa otot jantung.

 

Poupa (1967) menyimpulkan dari penelitiannya tentang perbandingan binatang buas dan binatang jinak sebagai berikut:

  1. Jantung lebih besar daripada binatang jinak
  2. Kepadatan di jantung lebih besar daripada binatang jinak
  3. Jumlah sel-sel otot per unit massa jantung lebih besar daripada binatang jinak
  4. Sel-sel jantung lebih kecil  daripada binatang jinak

 

Penelitian Reindell pada olahragawan menemukan bahwa pada olahragawan yang terlatih bernilai antara 900 sampai 1400 mili liter, sedangkan orang biasa antara 600 sampai 900 mili liter

Pada orang yang terlatih denyut jantung dan tekanan darah lebih cepat kembali ke keadaan semula setelah aktivitas tubuh dihentikan pada proses pemulihan system kardiovaskuler.

Distribusi darah dengan latihan akan menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

  • Jumlah ke otot akan berkurang, karena lebih efisienya otot
  • Ke organ-organ lainnya bertambah
  • Lebih tahan terhadap lingkungan panas, karena dapat menyalurkan lebih banyak darah ke kulit untuk pelepasan panas

 

  1. 3. ADAPTASI SISTEM RESPIRASI

Efek latihan pada system pernafasan sangat progresif, pengambilan O2 dan pelepasan CO2 menjadi lebih baik. Efisiensi otot pernafasan meningkat, frekwensinya menurun, sedangkan dalamnya bertambah.

Pembesaran kapasitas vital yang didapat pada seseorang dewasa terlatih, lebih berhubungan dengan proses proses pertumbuhannya daripada proses rangsangannya.

 

  1. 4. ADAPTASI PROSES METABOLISM

Dengan melakukan latihan, para olahragawan yang telah mendapatkan peningkatan maximum aerobic powernya dengan sempurna setelah latihan intensif tertentu.

Penggunaan prosentase yang lebih besar daripada maximum oxygen uptake akan mengakibatkan penurunan proses metabolisme anaerobik pada kegiatan fisik yang dilakukan sehingga mengakibatkan produksi asam laktat pada suatu aktivitas fisik yang dilakukan menurun.

Menurut hasil pengukuran kadar asam laktat dan pirufat di darah, dapat kita lihat bahwa proses metabolisme anaerobik mulai terjadi saat prosentase yang lebih tinggi daripada oxygen uptake. Asam laktat baru akan muncul apabila terjadi proses anaerobic dan dihubungkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya berat.

 

  1. 5. ADAPTASI SES-SEL JARINGAN

Peningkatan maximal oxygen uptake akibat latihan disebabkan peningkatan daripada oxygen transport dan sistem penggunaan oxygen. Peningkatan sistem penggunan oxygen berhubungan erat dengan sejumlah perubahan struktural dan perubahan biokimia pada sel.

Namun rata-rata maximum oxygen uptake menunjukan kenaikan sekitar 13% dan potensi oksidatif ototnya meningkat sekitar 100%. Juga metokondria sebagai pengatur respirasi sel meningkat 60% pada otot-otot yang terlatih.

 

Efek menaun (kronik) dari latihan adalah:

  1. Glikogen otot meningkat 2-5 kali sebelum latihan
  2. Mobilisasi jaringan adipose (lemak) dan pembakaran asam lemak akan meningkat pada olahragawan yang terlatih.

 

Peningkatan/ oksidasi asam lemak untuk mencukupi kebutuhan energi pada latihan jangka panjang ini akan meningkatkan penghematan glikogen, yang berarti penundaan pemecahan glikogen. Sehingga keadaan hypoglyacaemic yang mencetuskan kelelahan pun akan tertunda.

 

 

 

 

  1. 6. ADAPTASI MORFOLOGI

Penyesuaian terhadap latihan jangka panjang tidak hanya dinyatakan pada fungsi faaliah saja, tetapi juga pada keadaan morfologis beberapa perubahan morfologis pada tingkat sel telah ditemukan.

Peningkatan kegiatan fisik selalu otomatis diikuti dengan peningkatan nafsu makan, dan mengambil makanan, dan oleh karena itu sangat merugikan terhadap usaha penguranggan berat badan sedangkan berat badan akan menurun sesuai dengan peningkatan kegiatan jasmani dari keadaan istirahat ke keadaan kerja ringan, dan selanjutnya tidak berubah

PENGAJARAN MIKRO (PENGELOLAAN KELAS)

PENGAJARAN MIKRO KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

 

 

Keterampilan Menjelaskan

Memberikan penjelasan merupakan aspek penting dalam mengajar. Menjelaskan dimaksudkan untuk menyajikan informasi yang diorganisasikan secara sistematis untuk menunjukkan suatu hubungan..

 

1. Tujuan Keterampilan Menjelaskan

Tujuan keterampilan ini yaitu untuk membantu mengembangkan daya nalar siswa.

 

2. Alasan Pentingnya Keterampilan Menjelaskan

a. Dominasi guru di kelas (guru mendominasi kegiatan kelas).

b. Sajian berupa informasi karena sebagian besar penjelasan berupa informasi.

c. Sajian yang diberikan oleh guru kurang jelas bagi siswa dan hanya dapat                         dimengerti oleh guru itu sendiri.

d. Siswa perlu bantuan, karena tidak semua siswa dapat menggali sendiri                            pengetahuan dari buku dan sumber lain.

e. Kurangnya sumber yang dimanfaatkan siswa.

 

3. Prinsip Penggunaan Penjelasan dalam Pengajaran

a. Penalaran

Suatu penjelasan ditekankan pada penalaran, bukan pada indokrenasi.

b. Karakteristik siswa

Latar belakang dan karakter siswa perlu dipertimbangkan.

c. Karakteristik tujuan

Karakteristik tujuan menentukan sifat pendekatan materi yang disajikan.

d. Kebermaknaan

Penjelasan yang diberikan harus bermakan bagi siswa.

 

4. Komponen – Komponen Keterampilan Menjelaskan

a. Kejelasan sajian

Kejelasan ucapan, tujuan, dan pertanyaan – pertanyaan yang diajukan dapat meningkatkan keefektifan sajian.  Guru harus memperhatikan kejelasan, menghindari penggunaan kalimat yang berbelit – belit, kata – kata yang meragukan dan berlebihan.

b. Penggunaan contoh dan ilustrasi

Pemahaman terhadap konsep yang sulit dapat ditingkatkan dengan cara memberikan ilustrasi yang tepat, mengajukan contoh – contoh sebelum menarik generalisasi, serta menghubungkan ide – ide yang sama dengan kata penghubung. Akan tetapi, perlu diperhatikan pula bahwa pemberian contoh dan ilustrasi harus relevan dengan sifat penjelasan, usia siswa, pengetahuan, serta latar belakang siswa.

c. Pemberian tekanan

Untuk memusatkan perhatian siswa kepada masalah pokok dan cara pemecahannya, guru perlu menguasai keterampilan pemberian tekanan.  Keterampilan ini dapat berupa gaya mengajar, struktur kajian yang berupa ikhtisar, paraphrase atau dengan isyarat – isyarat.

Contoh ikhtisar :

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain itu, ketrampilan ini dapat dilakukan dengan mengunakan cara – cara sebagai berikut :

1) Memvariasikan suara

2) Pengulangan butir – butir yang penting

3) Mimik

4) Isyarat

5) Gambar

 

d. Balikan

Balikan perlu dikerjakan untuk mengetahui sejauh mana pengertian atau pemahaman, mimik, dan sikap  siswa terhadap kejelasan materi yang baru saja diberikan. Balikan ini dapat dikerjakan antara lain dengan cara meminta siswa untuk mendemonstrasikan kegiatan dan dengan mengajukan pertanyaan.

 

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR (PENGELOLAAN KELAS)

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

 

Keterampilan Mengadakan Variasi pada Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Aktivitas pengelolaan passing bawah dalam praktek olahraga bola voli seharusnya menyenangkan, namun pada kenyataannya malah membuat siswa bosan. Oleh karena itu, harus ada keterampilan mengadakan variasi.

 

1. Manfaat Mengadakan Variasi

a. Minat dan perhatian siswa terhadap proses pembelajaran akan tumbuh dan berkembang.

b.  Rasa ingin tahu siswa dan keinginan untuk mencoba ataupun melakukan semakin besar.

c.  Tingkah laku dan sikap positif akan berkembang.

d. Siswa dapat memilih cara belajar yang sesuai dan disenangi (dengan adanya variasi pembelajaran).

e.  Ranah psikomotor, kognitif, dan afektif siswa akan menjadi lebih berkembang. Hal ini dikarenakan oleh pembelajaran yang menarik akan dapat membuat siswa aktif dalam aktivitas.

 

2.  Prinsip Penggunaan Variasi agar Pembelajaran Lebih Efektif

a.  Perubahan gaya belajar harus relevan dengan :

1) Kompetensi pembelajaran

2) Pengembangan karakteristik siswa

b.  Perubahan gaya belajar harus berjalan lancar dan berkesinambungan.

c. Perubahan gaya belajar harus fleksibel dan spontan.

 

3.  Aspek dalam Mengadakan Variasi

a.  Variasi gaya mengajar guru

Perubahan gaya mengajar guru yang efektif dapat meningkatkan ketertarikan siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Variasi ini dapa dilakukan dengan cara antara lain :

1) Gerakan dan mimik guru, akan mempermudah siswa memahami atau menangkap maksud dari materi yang diberikan.

2) Tekanan suara

3) Pemusatan perhatian, hal ini perlu dilakukan karena perhatian siswa harus selalu tertuju pada tujuan pembelajaran.

4) Penekanan kata, contoh dalam variasi keterampilan passing bawah bola voli, guru mengatakan “setelah passing baru pindah”

 

Selain itu, ada beberapa macam gaya yang dapat digunakan guru pada saat mengajar, gaya – gaya mengajar itu antara lain :

1) Gaya Komando (The Command Style)

Kerangka pengambilan keputusan :

Perencana      ———- guru

Pelaksana       ———- guru

Evaluasi         ———- guru

Siswa hanya sebagai pelaku kegiatan saja.

Contoh kegiatan :

Saat guru memimpin stretching, guru merencanakan, melaksanakan,     dan mengevaluasi gerakan siswa.

 

2) Gaya Latihan (The Practice Style)

Kerangka pengambilan keputusan :

Perencana      ———- guru

Pelaksana       ———- siswa

Evaluasi         ———- guru

Contoh kegiatan :

Saat pembelajaran lay up dalam bola basket, dalam hal ini guru hanya memberikan contoh lalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan gerakan atau kegiatan yang telah dijelaskan dan dicontohkan oleh guru. Setelah itu, guru mengevaluasi gerakan siswa yang kurang benar.

 

3) Gaya Resiprokal (The Resiprocal Style)

Kerangka pengambilan keputusan :

Perencana      ———- guru

Pelaksana       ———- siswa

Evaluasi         ———- siswa

Caranya :

Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok yaitu 1 kelompok sebagai    pelaksana dan kelompok yang lain sebagai pengamat atau evaluator.

Contoh kegiatan :

Jumlah siswa 10, maka 5 siswa sebagai pelaksana dan 5 siswa sebagai pengamat dari gerakan yang dilakukan oleh kelompok pelaksana, lalu hasil dari pengamatan tersebut dilaporkan kepada guru untuk dibahas  bersama – sama, sehingga siswa yang lain tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

 

4) Gaya Inklusi (The Inclusion Style)

Kerangka pengambilan keputusan :

Perencana      ———- guru

Pelaksana       ———- siswa

Evaluasi         ———- siswa

Caranya :

Guru menetapkan beberapa level dan kriteria dalam pelaksanaan pembelajaran.  Dengan ketentuan level satu merupakan level paling mudah, lalu level dua lebih sulit dari level satu, dan begitu seterusnya. Lalu setiap siswa diberi kebebasan memilih level mana yang sesuai dengan kemampuan dirinya. Setelah itu, setiap siswa juga diberi kebebasan dan tanggung jawab untuk mengevaluasi kemampuannya (untuk menentukan apakah dirinya layak untuk naik ke level yang lebih sulit atau belum).

 

b.  Variasi media, bahan, dan alat pembelajaran

1) Media dengar (audio)

2) Media pandang (visual)

 

3) Media raba (taktil)

Contoh :

Media audio ——– Tape recorder (dalam aktivitas senam aerobik)

Siswa mendengarkan lagu, melihat gerakan guru (visual), lalu   menirukan gerakan guru.

 

4) Bahan pembelajaran

Setelah guru memberikan informasi pembelajaran maka guru    memberikan tantangan terhadap siswa.

Contoh :

Keterampilan passing bawah berpindah dalam bola voli.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5) Alat pembelajaran

Contohnya : palang = untuk melatih lompatan siswa.

 

6) Model pembelajaran konstektual (CTL)

Guru hanya sebagai fasilitator, fungsinya member pertanyaan kepada siswa dengan tujuan untuk merangsang kreatifitas siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

c. Variasi Pola Interaksi

1) Siswa mandiri

Contoh :

Siswa melakukan gerakan lay up bola basket secara bergantian.

 

2) Interaksi guru – siswa

Contoh :

Dalam kegiatan keterampilan passing bawah berpindah dalam bola      voli, guru melemparkan bola, dan siswa yang melakukan passing         bawah.

 

3) Interaksi siswa – siswa

Contoh :

Dalam praktek pelaksanaan start jongkok dalam lari, dimana siswa dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pelaksana dan kelompok pengamat (evaluator).

 

4) Interaksi guru – siswa – guru

Contoh :

Pembelajaran rol depan, guru bertanya terlebih dahulu kepada siswa mengenai titik berat badan saat hendak melakukan rol depan, lalu siswa menjawab, setelah itu, guru melemparkan pertanyaan berikutnya yang relevan dengan keterampilan rol depan.

BIOMEKANIKA (MOMENTUM, IMPULS, TUMBUKAN)

MOMENTUM, IMPULS, DAN TUMBUKAN

 

PENELITIAN KORELASIONAL

Definisi Penelitian Korelasional

Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian.

 

Menurut Gay dalam Sukardi (2008:166) menyatakan bahwa; penelitian korelasi merupakan salah satu bagian penelitian ex-postfacto karena biasanya peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi. Walaupun demikian ada peneliti lain seperti di antaranya Nazir dalam Sukardi (2008:166); mengelompokkan penelitian korelasi ke dalam penelitian deskripsi, karena penelitian tersebut juga berusaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha menggambarkan kondisi sekarang dalam konteks kuantitatif yang direfleksikan dalam variabel.

 

Penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting untuk para peneliti yang hendak menggunakannya. Tiga karakteristik tersebut, adalah:

  1. Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen.
  2. Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata.
  3. Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan.

 

Tujuan Penelitian Korelasional

Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (1994:24) adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2007:38); Tujuan penelitian korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi.

Studi hubungan biasanya menyelidiki sejumlah variabel yang dipercaya berhubungan dengan suatu variabel mayor, seperti hasil belajar variabel yang ternyata tidak mempunyai hubungan yang tinggi dieliminasi dari perhatian selanjutnya.

 

 

Ciri-Ciri Penelitian Korelasional

  1. Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat dimanipulasi.
  2. Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.
  3. Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.
  4. Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan variabel bebas.
  5. Penelitian korelasional, mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain: Hasilnya cuma mengidentifikasi apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal; Jika dibandingkan dengan penelitian eksperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib- ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas; Pola saling hubungan itu sering tak menentu dan kabur; ering merangsang penggunaannya sebagai semacam short-gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.
  6. Penelitian korelasional juga mengandung kelebihan-kelebihan, antara lain: kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara bersama-sama (simultan);  dan Penelitian korelasional juga dapat memberikan informasi tentang derajat (kekuatan) hubungan antara variabel-variabel yang diteliti.

 

 

Macam-Macam Penelitian Korelasional

1 Penelitian Hubungan

Penelitian hubungan, relasional, atau korelasi sederhana (seringkali hanya disebut korelasi saja) digunakan untuk menyelidiki hubungan antara hasil pengukuran terhadap dua variabel yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat atau derajat hubungan antara sepasang variabel (bivariat).

 

Lebih lanjut, penelitian jenis ini seringkali menjadi bagian dari penelitian lain, yang dilakukan sebgai awal untuk proses penelitian lain yang kompleks. Misalnya, dalam penelitian korelasi multivariat yang meneliti hubungan beberapa variabel secara simultan pada umumnya selalu diawali dengan penelitian hbungan sederhana untuk melihat bagaimana masing-masing variabel tersebut berhubungan satu sama lain secara berpasangan.

 

Dalam penelitian korelasi sederhana ini hubungan antar variabel tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi, suatu alat statistik yang digunakan untuk membantu peneliti dalam memahami tingkat hubungan tersebut. Nilai koefisien tersebut, bervariasi dari -1,00 sampai +1,00 diperoleh dengan menggunakan teknik statistik tertentu sesuai dengan karakter dari data masing-masing variabel.

 

Pada dasarnya, desain penelitian hubungan ini cukup sederhana, yakni hanya dengan mengumpulkan skor dua variabel dari kelompok subjek yang sama dan kemudian menghitung koefisien korelasinya. Oleh karena itu, dalam melakukan penelitian ini, pertama-tama peneliti menentukan sepasang variabel yang akan diselidiki tingkat hubungannya. Pemilihan kedua variabel tersebut harus didasarkan pada teori, asumsi, hasil penelitian yang mendahului, atau pengalaman bahwa keduanya sangat mungkin berhubungan.

2 Penelitian Prediktif

Dalam pelaksanaan di bidang pendidikan, banyak situasi yang menghendaki dilakukannya prediksi atau peramalan. Pada awal tahun ajaran baru, misalnya, setiap sekolah karena keterbatasan fasilitas, seringkali harus menyeleksi para pendaftar yang akan diterima menjadi calon siswa baru.

 

Penelitian korelasi jenis ini memfokuskan pada pengukuran terhadap satu variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk memprediksi atau meramal kejadian di masa yang akan datang atau variabel lain (Borg & Gall dalam Hadjar; 1999:285). Penelitian ini sebagaimana penelitian relasional, melibatkan penghitungan korelasi antara suatu pola tingkah laku yang kompleks, yakni variabel yang menjadi sasaran prediksi atau yang diramalkan kejadiannya (disebut kriteria), dan variabel lain yang diperkirakan berhubungan dengan kriteria, yakni variabel yang dipakai untuk memprediksi (disebut prediktor). Teknik yang digunakan untuk mengetahui tingkat prediksi antara kedua variabel tersebut adalah teknik analisis regresi yang menghasilkan nilai koefisien regresi, yang dilambangkan dengan R.

 

Perbedaan yang uama antara penelitian relasional dan penelitian jenis in terletak pada asumsi yang mendasari hubungan antar variabel yang diteliti. Dalam penelitian relasional, peneliti berasumsi bahwa hubungan an tar kedua variabel terjadi secara dua arah atau dengan kata lain, ia hanya ingi menyelidiki apakah kedua variabel mempunyai hbungan, tanpa mempunyai anggapan bahwa variabel yang muncul lebih awal dari yang lain. Oleh karena itu, kedua variabel biasanya diukur dalam waktu yang bersamaan. Sedang dalam penelitian prediktif, di samping ingin menyelidiki hubungan antara dua variabel, peneliti juga mempunyai anggapan bahwa salah satu variabel muncul lebh dahulu dari yang lain, atau hubungan satu arah. Oleh karena itu, tidak seperti penelitian relasional, kedua variabel diukur dalkam waktu yang berurutan, yakni variabel prediktor diukur sebelum variabel kriteria terjadi, dan tidak dapat sebaliknya.

 

3 Korelasi Multivariat

Teknik untuk mengukur dan menyelidiki tingkat hubungan antara kombinasi dari tiga variabel atau lebih disebut teknik korelasi multivariat. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan, dua diantaranya yang akan dibahas di sini adalah: regresi ganda atau multiple regresion dan korelasi kanonik.

a. Regresi ganda

Memprediksi suatu fenomena yang kompleks hanya dengan menggunakan stu faktor (variabel prediktor) seringkali hanya memberikan hasilyang kurang akurat. Dalam banyak hal, semakin banyak informasi yang diperoleh semakin akurat prediksi yang dapat dibuat (Mc Millan & Schumaker dalam Hadjar; 1999:288), yakni dengan menggunakan kombinasi dua atau lebih variabel prediktor, prediksi terhadap variabel kriteria akan lebih akurat dibanding dengan hanyamenggunakan masing-masing variabel prediktorsecara sendiri-sendiri. Dengan demikian, penambahan jumlah prediktor akan meningkatkan akurasi prediksi kriteria.

b. Korelasi kanonik

Pada dasarnya teknik ini sama dengan regresi ganda, dimana beberapa variabel dikombinasikan untuk memprediksi variabel kriteria. Akan tetapi,tidak seperti regresi ganda yang hanya melibatkan satu variabel kriteria, korelasi kanonik melibatkan lebih dari satu variabel kriteria. Korelasi ini berguna untuk menjawab pertanyaan, bagaimana serangkaian variabel prediktor memprediksi serangkai variabel kriteria?. Dengan demikian, korelasi kanonik ini dapatdianggap sebagai perluasan dari regresi ganda,dan sebaliknya, regresi berganda dapat dianggap sebagai bagian dari korelasi kanonik (Pedhazur dalam Hadjar; 1999:289).

 

Seringkali korelasi ini digunakan dalam penelitian eksplorasi yang bertujuan untuk meentukan apakah sejumlah variabel.mempunyai hubungan satu sama lain yang serupa atau berbeda.

 

 

Desain Dasar Dari Penelitian Korelasional

Pada dasarnya penelitian korelasioanal, baik relasional, prediktif, maupun multivariat, melibatkan perhitungan korelasi antara variabel yang kompleks         (variabel kriteria) dengan variabel lain yang dianggap mempuyai hubungan (variabel prediktor). Untuk menguji hubungan tersebut, desain atau langkah-langkah yag ditempuh untuk penelitian relasional dan prediksi sama meskipun detail masing-masing langkah untuk keduanya berbeda, terutama dalam pengumpulan dan analsis data. Langkah-langkah tesebut, yang paling pokok, adalah: penentuan masalah, penentuan subjek, pengumpulan data, dan analisis data.

 

1 Penentuan Masalah

Sebagaimana dalam setiap penelitian, langkah awal yang harus dilakukan peneliti adalahmenentukan masalah penelitian yang akan menjadi fokus studinya. Dalam penelitian korelasional, masalah yang dipilih harus mempunyai nilai yang berarti dalam pola perilaku fenomena yang kompleks yang memrlukan pemahaman. Disamping itu, variabel yang dimasukkan dalam penelitian harus didasarkan pada pertimbangan, baik secara teoritis maupun nalar, bahwa variabel tersebut mempunyai hubungan tertentu. Hal ini biasanya dapat diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang terdahulu atau terdahulu.

 

2 Penentuan Subyek

Subyek yang dilibatkan dalam penelitian ini harus dapat diukur dalam variabel-variabel yang menjadi fokus penelitian. Subyek tersebut harus relatif homogen dalam faktor-faktor di luar variabel yang diteliti yang mungkin dapat mempengaruhi variabel terikat. Bila subyek yang dilibatkan mempunyai perbedaan yang berarti dalam faktor-faktor tersebut, korelasi antar variabel yang diteliti menjadi kabur.

 

Untuk mengurangi heterogenitas tersebut, peneliti dapat mengklasifikasikan subyek menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat faktor tertentu dan, kemudian menguji hubungan antar variabel penelitian untuk masing-masing kelompok.

3 Pengumpulan Data

Berbagai jenis instrumen dapat digunakan untuk mengukur dan mengumpulkan data masing-masing variabel, seperti angket, tes, pedoman interview dan pedoman observasi, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Data yang dikumpulkan dengan instrumen-instrumen tersebut harus dalam bentuk angka. Dalam penelitian relasional, pengukuran variabel dapat dilakukan dalam waktu yang relatif sama. Sedang dalam penelitian prediktif, variabel prediktor harus diukur selang beberapa waktu sebelum variabel kriteri terjadi. Jika tidak demikian, maka prediksi terhadap kriteria tersebut tidak ada artinya.

4 Analisis Data

Pada dasarnya, analisis dalam penelitian korelasional dilakukan dengan cara mengkorelasikan hasil pengukuran suatu variabel dengan hasil pengukuran variabel lain. Dalam penelitian relasional, teknik korelasi bivariat, sesuai dengan jenis datanya, digunakan untuk menghitung tingkat hubungan antara vaiabel yang satu dngan yang lain. Sedang dalam penelitian prediktif, teknik yang digunakan adalah analisis regresi untuk mengetahui tingkat kemampuan prediktif variabel prediktor terhadap variabel kriteria. Namun demikian, dapat pula digunakan analisis korelasi biasa bila hanya melibatkan dua variabel. Bila melibatkan lebih dari dua variabel, misalnya untuk menentukan apakah dua variabel prediktor atau lebih dapat digunakan untuk memprediksi variabel kriteria lebih baik daripada bila digunakan secara sendiri-sendiri, teknik analisis regresi ganda, multiple regresion atau analisis kanonik dapat digunakan. Hasil analisis tersebut biasanya dilaporkan dalam bentuk nilai koefisien korelasi atau koefisien regresi serta tingkat signifikansinya, disamping proporsi variansi yang disumbangkan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat.

 

 

Rancangan Penelitian Korelasional

Penelitian korelasional mempunyai berbagai jenis rancangan, yaitu:

1 Korelasi Bivariat

Rancangan penelitian korelasi bivariat adalah suatu rancangan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua variabel. Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut mempunyai tingkatan dan arah.

Tingkat hubungan (bagaimana kuatnya hubungan) biasanya diungkapkan dalam angka antar -1,00 dan +1,00, yang dinamakan foefisien korelasi. Korelasi zero (0) mengindikasikan tidak ada hubungan. Koefisien korelasi yang bergerak ke arah -1,00 atau +1,00, merupakan korelasi sempurna pada kedua ekstrem.

 

Arah hubungan diindikasikan olh simbol “-“ dan “+”. Suatu korelasi negatif berarti bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin rendah pula skor pada variabel lain atau sebaliknya. Korelasi positif mengindikasikan bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada variabel lain atau sebaliknya.

Regresi dan Prediksi

Jika terdapat korelasi antara dua variabel dan kita mengetahui skor pada salah satu variabel, skor pada variabel kedua dapat diprediksikan. Regresi merujuk pada seberapa baik kita dapat membuat prediksi ini. Sebagaimana pendekatan koefisien korelasi baik -1,00 maupun +1,00, prediksi kita dapat lebih baik.

 

3 Regresi Jamak (Multiple Regresion)

Regresi jamak merupakan perluasan regresi dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kombinasi beberapa variabel ini memberikan lebih banyak kekuatan kepada kita untuk membuat prediksi yang akurat. Apa yang kita prediksikan disebut variabel kriteria (criterion variable). Apa yang kita gunakan untuk membuat prediksi, variabel-variabel yang sudah diketahui disebut variabel prediktor (predictor variables).

4 Analisis Faktor

Prosedur statistik ini mengidentifikasi pola variabel yang ada. Sejumlah besar variabel dikorelasikan dan terdapatnya antarkorelasi yang tinggi mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.

 

5 Rancangan Korelasional untuk Menarik Kesimpulan Kausal

Terdapat dua rancangan yang dapat digunakan untuk membuat pernyataan-pernyataan tentang sebab dan akibat menggunakan metode korelasional. Rancangan tersebut adalah rancangan analisis jalur (path analysis design) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel design).

 

Analisis jalur digunakan untuk menentukan mana dari sejumlah jalur yang menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Sedangkan desain panel lintas akhir mengukur dua variabel pada dua titik sekaligus.

 

 

 

6 Analisis Sistem (System Analysis)

Desain ini meibatkan penggunaan prosedur matematik yang kompleks/rumit untuk menentukan proses dinamik, seperti perubahan sepanjang waktu, jerat umpan balik serta unsur dan aliran hubungan.

 

Kesalahan yang Sering Muncul dalam Penelitian Korelasional

Kesalahan-kesalahan yang kadang-kadang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian korelasional adalah sebagai berikut:

•      Peneliti berasumsi bahwa korelasi merupakan bukti sebab akibat.

•      Peneliti bertumpu pada pendekatan sekali tembak (shotgun approach).

•      Peneliti memilih statistik yang salah.

  • Peneliti menggunakan analisis bivariat ketika multivariat yang lebih tepat.
  • Peneliti tidak melakukan studi vasilitas silang.
  • Peneliti menggunakan analisis jalur tanpa peninjauan asumsi-asumsi (teori).
  • Peneliti gagal menentukan suatu variabel kausal penting dalam perencanaan suatu analisis jalur.
  • Peneliti salah tafsir terhadapsignifikansi praktis atau statistik dalam suatu studi.

BASKET

"Tim Basket UM cewek 2009"Final bolabasket campus league 2009,, Tim basket putri UM vs Tim basket putri UB Malang.  Diakhir quarter ke-4, alhamdulillah tim basket putri UM berhasil menjadi JAWARA dan berhak melangkah ke campus league nasional yang dihelat di Surabaya.